AlurKefasihan

Thursday, August 17, 2006

Dimana Allah?

Seseorang bertanya kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib :
"Dimana Tuhan?"
Ali menjawab,
"Pertanyaan dimana Tuhan adalah pertanyaan yang salah, karena Tuhanlah yang menciptakan tempat. Begitu juga menanyakan bagaimana Tuhan itu, seperti apa sifat Tuhan, karena Tuhan yang menciptakan semua sifat. Lebih lanjut, juga tidak mungkin menanyakan Tuhan itu apa (definisi hakikat Tuhan), karena Tuhan yang menciptakan intisari.

Mahasuci Tuhan yang memiliki keagungan dalam cahaya terang-Nya, orang bijak tidak mampu memahaminya, dengan mengingat keabadian-Nya semua pemikiran berhenti di tempatnya, dan di langit kemuliaan-Nya yang luas membuat akal tersesat jalannya."

Tidak Pernah Gagal

Imam Ja'far ash Shadiq ketika menjawab pertanyaan Mufadhdhal, mengatakan :
"Saya bersumpah dengan jiwa saya sendiri bahwa Tuhan tidak gagal dikenal oleh orang-orang bodoh, karena mereka melihat bukti - bukti yang nyata dan tanda - tanda yang jelas tentang Pencipta dalam ciptaan-Nya serta menyaksikan fenomena-fenomena yang menakjubkan dalam kerajaan langit dan bumi yang menunjukkan kepada pencipta mereka.

Orang-orang yang bodoh adalah orang-orang yang selalu membuka pintu gerbang dosa di hadapan mereka dan mengikuti jalan memperturutkan keinginan dan hawa nafsu. Keinginan - keinginan jiwa mereka mendominasi hatinya, dan karena itulah terjadi penindasan terhadap diri mereka sendiri, maka setan menguasai mereka. Tuhan selalu menutup hati orang-orang yang melakukan pelanggaran."

Doa Imam Husain

Bagaimana mungkin membuktikan (menalarkan) wujud-Mu dengan sesuatu yang sudah tergantung padamu semenjak awal penciptaannya? Mengapa Engkau tidak memiliki wujud yang Engkau miliki, sehingga membuat Engkau nyata? Kapan Engkau sembunyi dari mata bathin sehingga Engkau perlu bukti sebagai petunjuk bagi-Mu. Kapan Engkau berada di tempat yang jauh dari kami sehingga jejak dan tanda-tanda-Mu 'menarik' kami mendekat kepada-Mu? Mata yang tidak melihat-Mu selalu mengawasi dan melindungi adalah mata yang buta!

Wahai Tuhan, Engkau yang menampakkan wujud-Mu kepada kami dengan cahaya-Mu, bagaimana Engkau bisa sembunyi ketika Engkau tampak dan nyata? Bagaimana mungkin Engkau tiada padahal, Engkau dengan wujud-Mu selalu mengawasi para pelayan-Mu, para pengabdi-Mu?

Sunday, June 12, 2005

Berdebat

Seseorang berkata kepada Imam Husain bin Ali ra, "Duduklah hingga kita berdebat tentang agama." Beliau berkata, "Kemari, aku ini lebih mengetahui tentang agamaku, petunjukku tersingkap bagiku. Jika kamu tidak mengetahui tentang agamamu, maka pergilah dan tuntutlah ilmu agama. Apa manfaat bagiku dengan perdebatan ini, karena sesungguhnya setan menggoda dan membisikkan sesuatu pada seseorang sambil berkata,'Berdebatlah dengan orang-orang tentang agama, supaya mereka tidak mendugamu sebagai orang yang lemah dan bodoh.' Perdebatan itu tidak lebih dari empat macam, yaitu :

1. Pertama, kamu dan temanmu berdebat tentang apa yang kalian berdua mengetahuinya. Dalam hal ini kalian telah meninggalkan nasihat dan mencari kesalahan serta menghilangkan ilmu itu.

Kedua, kalian berdebat tentang apa yang kalian berdua tidak mengetahuinya, maka kalian telah menampakkan kebodohan dan berselisih tentang sesuatu yang tidak kalian ketahui.

Ketiga, kalian berdebat sedangkan kamu mengetahui hal yang diperdebatkan dan kawanmu tidak, maka kamu telah menzalimi temanmu dengan mencari kesalahannya.

Keempat, kalian berdebat sedangkan temanmu mengetahui hal yang diperdebatkan dan kamu tidak, maka kamu tidak menghormatinya meskipun kedudukannya tidak jatuh.

Ini semua adalah hal yang sia-sia. Barangsiapa yang bersikap adil dan menerima kebenaran serta meninggalkan perdebatan, maka dia telah meneguhkan keimanannya dan memperbaiki persahabatan agamanya serta menjaga akalnya."

Sumber : Mukhtasar Shahifah Husainiyah, Muthahhari Press.
Sumber asli : Tuhaf al-'Uqul 'an ali al-Rasul Kalimat al-mam al-Husain

Thursday, May 19, 2005

Sahabat sejati

Qays bin Asim bercerita :
"Pernah saya pergi bersama sekelompok sahabat ke Madinah. Kami menghadap Rasulullah S.A.W -- semoga kedamaian dan karunia dilimpahkan kepada beliau dan keluarganya -- dan saya meminta kepadanya untuk memberikan nasihat kepada kami. Saya berkata,
'Karena kami adalah penduduk gurun pasir dan hanya sekali-sekali datang ke kota, kami ingin memanfaatkan kesempatan dan keuntungan ini dari kata-kata Anda yang fasih.'

Rasulullah S.A.W menjawab,'Kebanggaan akan diikuti oleh kehinaan, kehidupan akan diikuti dengan kematian, dunia ini akan diikuti oleh akhirat. Segala sesuatu yang eksis pasti akan tunduk pada sebuah penghitungan, dan ada yang mengawasi segala
benda. Ada pahala bagi setiap perbuatan yang baik dan hukuman bagi setiap perbuatan jahat. Ada suatu periode tertentu bagi segala sesuatu.

Wahai Qays, kamu memiliki seorang teman dan sahabat yang pada suatu hari akan dikubur bersamamu. Bila kamu dikuburkan, dia akan tetap hidup meskipun kamu telah mati. Jika sahabatmu itu terhormat, maka dia akan menghormatimu, dan jika dia rendah dan
hina, dia akan menyiksa dan menimbulkan masalah kepadamu. Dia akan dibangkitkan kembali bersama denganmu, dan kamu akan dibangkitkan kembali bersama dengannya. Tidak ada pertanyaan yang akan ditanyakan kepadamu, semua pertanyaan akan ditujukan kepadanya. Maka pilihlah sahabat yang berharga dan baik, karena jika sahabatmu baik maka dia akan menyenangkanmu, tetapi bila dia jahat, kamu akan berharap untuk meninggalkannya dalam ketakutan.

Sahabat dan teman abadi itu tidak lain daripada perbuatan-perbuatanmu.'"


('Iqab al-Amal)

Saturday, November 13, 2004

Etika Pemerintahan (18) (Akhlak yang Harus Dimiliki Seorang Pemimpin)

Surat Imam Ali Kepada Malik Asytar An-Nakha'iy Ketika Mengangkatnya Sebagai Wali Mesir dan Sekitarnya

Jangan sekali-kali merasa bangga akan dirimu sendiri atau merasa yakin akan apa saja yang kau banggakan tentang dirimu. Jangan menjadikan dirimu sebagai penggemar puji-pujian yang berlebihan. Yang demikian itu merupakan kesempatan terbaik bagi setan untuk menghancur-luluhkan hasil kebajikan orang-orang yang berbuat baik.

Jangan mengungkit-ungkit kebaikan yang kaulakukan untuk rakyatmu atau membesar-besarkan jasa yang pernah kau perbuat, atau menjanjikan sesuatu kepada mereka lalu kau tidak memenuhinya. Perbuatan mengungkit-ungkit suatu kebajikan, memusnahkan pahalanya. Membesar-besarkan kebaikan diri, menghilangkan sinar kebenarannya. Dan menyalahi janji, menghasilkan kebencian di sisi Allah dan di sisi manusia. Allah berfirman: Sungguh besar kemurkaan Allah dalam hal kamu mengatakan apa yang tidak kamu lakukan. (QS 61:3)

Jangan tergesa-gesa mengerjakan sesuatu sebelum waktunya, atau melalaikan di saat kau mampu melakukannya. Jangan pula memaksakan diri ketika masih diliputi keraguan, atau kehilangan semangat bila telah jelas kebaikannya. Letakkanlah segala sesuatu pada tempatnya yang selayaknya dan kerjakanlah segala sesuatu pada waktunya.

Jangan mengkhususkan dirimu dengan sesuatu yang menjadi hak bersama orang banyak. Jangan berpura-pura tidak mengetahui sesuatu yang sudah jelas bagi setiap penglihatan. Hal itu pasti akan diambil kembali darimu untuk mereka yang lebih berhak. Dan sebentar lagi akan tersingkap penutup segala yang bersangkutan denganmu, dan setiap orang yang kau langgar haknya pasti akan direnggutkan kembali haknya darimu.

Kendalikan luapan amarahmu, kekerasan tindakanmu, kekejaman tanganmu dan ketajaman lidahmu. Jagalah keselamatan dirimu dengan menahan gejolak emosimu dan menangguhkan hukumanmu sampai saat redanya kembali amarahmu. Sehingga dengan begitu kau mampu memilih yang paling bijaksana. Bahkan tidak memutuskan sesuatu kecuali setelah cukup menyibukkan hatimu dengan mengingat saat kau dikembalikan kepada Tuhanmu kelak.

Adalah kewajibanmu untuk mengingat kebaikan yang telah dilakukan orang-orang pendahulumu. Baik yang berupa pemerintahan yang adil atau tradisi yang mulia. Demikian pula berita tentang Nabi kita saw, atau ketetapan dalam Kitab Allah SWT. Contohkanlah semua itu sebagaimana telah kau saksikan kami melakukannya. Curahkanlah segala daya upayamu dalam mengikuti segala yang kupesankan kepadamu dalam suratku ini dan kuikatkan erat-erat pada dirimu. Agar kau tidak mudah dijerumuskan oleh dirimu sendiri bila ia bergegas mengikuti hawa nafsunya.

Aku mohon kepada Allah SWT; dengan rahmat-Nya yang amat luas dan kuasa-Nya yang Mahabesar yang mampu memenuhi segala permohonan, agar Ia melimpahkan taufik-Nya kepada diriku dan dirimu guna mencapai ridha-Nya dengan seadil-adil-Nya, untuk-Nya dan untuk makhluk-Nya. Juga demi kepuasan seluruh rakyat, kesejahteraan di seluruh penjuru negeri, kesempurnaan nikmatdan berlipat gandanya kemuliaan. Dan agar Ia mengakhiri hidupku dan hidupmu dengan syahadah. Sungguh kepada-Nya kita semua akan kembali. Salam untuk Rasulullah saw dan keluarganya yang baik-baik dan tersucikan, sebagaimana ia untuk dirimu juga.
(Tamat)
Sumber Utama : Nahjul Balaghah, Syarif Ar-Radhiy
Sumber Rujukan : Mutiara Nahjul Balaghah, Mizan

Etika Pemerintahan 17 (Larangan Menumpahkan Darah Tanpa Alasan yang Dibenarkan)

Surat Imam Ali Kepada Malik Asytar An-Nakha'iy Ketika Mengangkatnya Sebagai Wali Mesir dan Sekitarnya

Awas! Jauhkanlah dirimu dari perbuatan menumpahkan darah siapa pun tanpa alasan yang menghalalkan. Tiada suatu yang lebih dekat kepada pembalasan, lebih berat bebannya dan lebih cepat menghilangkan nikmat serta menghentikan masa kekuasaan, daripada penumpahan darah tanpa sebab yagn dibenarkan. Ketahuilah bahwa pada Hari Kiamat, Allah SWT akan menjadikan persoalan penumpahan darah di antara hamba-hamba-Nya sebagai sesuatu yang pertama kali akan diadili-Nya. Maka jangan sekali-kali berusaha memperkukuh kekuasaanmu dengan menumpahkan darah yang diharamkan Allah. Perbuatan seperti itu justru akan melemahkan kekuasaanmu dan merapuhkannya, bahkan menghilangkannya darimu sama sekali.

Tiada maaf sedikit pun dari Allah ataupun dari aku bila kaulakukan pembunuhan dengan disengaja, sebab atasnya berlaku hukum badan. Tapi bila kau hadapkan pada suatu pelanggaran, kemudian kau menyebabkan kematian si terhukum secara tidak sengaja, akibat cambuk, pedang ataupun tanganmu, maka cepat-cepatlah mencari kerelaan keluarganya dengan menunaikan segala yang menjadi hak mereka dengan sempurna. Jangan sekali-kali engkau sampai terhalang melakukannya dengan keangkuhan kekuasaanmu.
Sumber Utama : Nahjul Balaghah, Syarif Ar-Radhiy
Sumber Rujukan : Mutiara Nahjul Balaghah, Mizan

Tuesday, November 09, 2004

Etika Pemerintahan (16) (Perlakuan terhadap Musuh)

Surat Imam Ali Kepada Malik Asytar An-Nakha'iy Ketika Mengangkatnya Sebagai Wali Mesir dan Sekitarnya

Jangan menolak seruan perdamaian yang datang dari musuhmu, selama hal itu diridhai Allah. Sesungguhnya perdamaian akan memberikan istirahat bagi tentaramu, mengurangi keresahan hatimu dan mendatangkn keamanan negerimu. Tetapi tetap waspadalah terhadap musuh-musuhmu setelah engkau berdamai dengan mereka, sebab ada kalanya mereka itu mendekatimu semata-mata demi mencari kelengahanmu. Bersikaplah lugas, tegas dan berhati-hati dalam berbaik sangka.

Dan bila kau telah mengikat perjanjian dengan musuhmu atau mengikrarkan sesuatu baginya atas dirimu, lingkungilah janjimu itu dengan ketulusan dan peliharalah ikrarmu dengan amanat. Jadikanlah dirimu sendiri sebagai jaminan atas janji yang kau berikan. Sebab tidak ada sesuatu yang difardhukan Allah dan lebih patut dipegang teguh oleh manusia – betapapun beraneka ragam aliran yang mereka percayai dan berbedanya kecenderungan hati yang mereka miliki – lebih dari pada memenuhi janji amanat. Bahkan kaum musyrik pun yang kedudukan mereka di bawah kaum muslim, telah mempertahankan sikap seperti itu karena mereka benar-benar mengerti betapa buruknya akibat pengingkaran janji. Maka jangan sekali-kali melanggar ikrarmu, jangan mengingkari janjimu dan jangan mengkhianati musuhmu. Sebab, tidak ada yang berani melawan ketentuan Alah kecuali seorang jahil durjana. Sedangkan Allah telah menjadikan janji-Nya sebagai penyebab rasa aman, yang ditebarkan-Nya di antara hamba-hamba-Nya dengan rahmat-Nya, dan sebagai tempat suci yang dengan kekuatannya mereka berlindung dan berkumpul. Oleh sebab itu, jangan melakukan pengrusakan, pengkhianatan atau penipuan. Jangan membuat perjanjian dengan menggunakan ungkapan yang samar-samar yang dapat dialihkan dari maksud yang sebenarnya. Dan jangan sekali-kali mengambil keuntungan dari lemahnya susunan kalimat di dalamnya untuk mengelak dari kewajibanmu, padahal kau telah menguatkan janjimu.

Dan sekiranya kau berada dalam kesempitan karena terikat oleh perjanjian itu, jangan sekali-kali berusaha melepaskan diri dengan sesuatu selain yang haqq. Kesabaranmu menanggung kesempitan sambil mengharap datangnya kelapangan serta akibat baiknya, adalah lebih baik daripada pengkhianatan yang kaucemaskan bebannya. Sebab pengkhianatan akan mendatangkan tuntutan Allah yang melingkungimu, sehingga tidak ada lagi ruang untuk memohon ampunan-Nya, di dunia dan di akhirat.

Sumber Utama : Nahjul Balaghah, Syarif Ar-Radhiy
Sumber Rujukan : Mutiara Nahjul Balaghah, Mizan

Etika Pemerintahan (15) (Perlakuan terhadap Staff Pribadi dan Orang-orang Terdekat)

Surat Imam Ali Kepada Malik Asytar An-Nakha'iy Ketika Mengangkatnya Sebagai Wali Mesir dan Sekitarnya

Kemudian, seorang wali negeri biasanya dikelilingi oleh staf pribadi dan orang-orang terdekat yang di antara mereka terdapat sifat-sifat egoisme, keangkuhan dan ketidak-adilan dalam perlakuan terhadap rakyat. Cegahlah itu semua dengan “memotong” kekuasaan orang-orang itu demi mencegah timbulnya perlakuan seperti itu dari mereka. Jangan menguasakan sepotong tanah pun kepada mereka atau kepada kerabatmu. Jangan memberi mereka kesempatan memiliki tanah yang akan menyebabkan timbulnya kesulitan bagi para pemilik tanah di sebelahnya, baik dalam hal pengairan atau fasilitas lainnya, yang mereka lakukan secara bersama dengan orang-orang lain. Hal seperti itu, hasil kenikmatannya akan dirasakan oleh orang-orangmu, sedangkan aibnya akan kautanggung sendiri di dunia dan di akhirat.

Jatuhkanlah putusanmu dengan benar atas siapa saja yang memang patut menerimanya, baik ia seorang yang dekat denganmu atau yang jauh. Bersabarlah dan ikhlaskanlah yang demikian itu, apa pun reaksi “orang-orang dekat” dan para kerabatmu. Utamakanlah akibat baik yang akan kau peroleh di masa mendatang, sebab hal itu pasti menghasilkan kebaikan berlimpah untukmu.

Dan bila sekali waktu rakyat mengira engkau telah berbuat sesuatu kezaliman, tampillah di hadapan mereka untuk mengemukakan alasanmu. Hilangkanlah segala purbasangka mereka terhadap dirimu dengan penjelasanmu itu. Tindakan seperti itu akan membiasakan dirimu berpegang pada keadilan dan menunjukkan kasih syangmu terhadap rakyatmu serta kesungguhan hatimu dalam meluruskan mereka di atas jalan kebenaran.

Sumber Utama : Nahjul Balaghah, Syarif Ar-Radhiy
Sumber Rujukan : Mutiara Nahjul Balaghah, Mizan

Thursday, October 28, 2004

Etika Pemerintahan (14) (Jangan Menutup Diri terhadap Rakyat Banyak)

Surat Imam Ali Kepada Malik Asytar An-Nakha'iy Ketika Mengangkatnya Sebagai Wali Mesir dan Sekitarnya

Jangan berlama-lama menutup diri dari rakyatmu. Sikap seperti itu akan menyebabkan rasa kesal di hatimu dan menghilangkan kesempatan untuk memahami persoalan-persoalan yang kauhadapi. Demikian pula rakyat tidak akan memahami secara benar apa yang tertutup bagi mereka; lalu yang besar dianggap kecil sementara yang kecil menjadi besar. Yang baik pun dianggap buruk sementara yang buruk menjadi baik dalam pandangan mereka. Maka bercampur aduklah yang haqq dan yang bathil karenanya.

Dan sesungguhnya seorang pemimpin adalah manusia biasa yang tidak dapat mengetahui apa yang dilakukan orang di belakangnya. Sedangkan kebenaran tidak memiliki tanda-tanda yang dapat membedakan dengan jelas antara berbagai macam ketulusan dan kepalsuan. Sedangkan engkau adalah satu di antara dua : seorang dermawan yang selalu bermurah hati dalam kebenaran, maka tidak ada alasan darimu untuk menutup diri dari suatu kewajiban yang ingin kau laksanakan atau perbuatan mulia yang ingin kau lakukan. Atau engkau seorang penderita penyakit bakhil yang segera akan membuat orang banyak enggan meminta sesuatu darimu karena keputusasaan mereka untuk mendapatkannya. Meskipun – pada kenyataannya – kebanyakan keperluan manusia terhadapmu tidak akan terlalu memberatimu, baik yang berupa pengaduan tentang ketidakadilan atau permintaan perlakuan dengan kewajaran.

Sumber Utama : Nahjul Balaghah, Syarif Ar-Radhiy
Sumber Rujukan : Mutiara Nahjul Balaghah, Mizan

Etika Pemerintahan (13) (Mengikhlaskan Ibadat dan Menyantuni Rakyat)

Surat Imam Ali Kepada Malik Asytar An-Nakha'iy Ketika Mengangkatnya Sebagai Wali Mesir dan Sekitarnya

Ada beberapa hal yang harus kautangani sendiri. Yaitu seperti menjawab permintaan pejabat-pejabatmu, secara langsung, dalam hal-hal yang tidak dapat dikerjakan oleh para juru tulismu. Juga untuk menyelesaikan, dengan segera, segala kebutuhan rakyatmu yang terhambat oleh kesempitan hati para pembantumu. Kerjakanlah tugas setiap hari pada waktunya, karena setiap hari-baru membawa-serta tugasnya masing-masing.

Jadikanlah bagian terbaik dan terbesar dari waktumu untuk Tuhanmu. Bahkan engkau sebenarnya dapat menjadikan seluruhnya untuk Tuhanmu. Yakni selama hatimu terjaga bersih dan rakyatmu terpelihara kepentingannya.

Dirikanlah sholat-sholat fardhu yang hanya untuk-Nya saja kaukerjakan. Jadikan kegiatanmu itu sebagai pengabdianmu yang paling tulus kepada-Nya. Serahkan kepada-Nya seluruh kegiatanmu sepanjang malam dan siang hari. Lakukan segala upaya pendekatan kepada-Nya secara sempurna tanpa cela dan lalai sedikit pun, betapapun hal itu menyebabkan letihnya tubuhmu.

Dan jika kau mengimami orang banyak, jagalah agar shalatmu tidak menjemukkan (karena panjangnya) atau merugikan mereka (karena kurang sempurnanya). Ingatlah bahwa di antara mereka ada yang menderita sakit atau dikejar suatu keperluan. Dan aku pernah menanyakan kepada Rasulullah saw. Ketika beliau mengutusku ke negeri Yaman, bagaimana sebaiknya aku mengimami shalat mereka. Beliau berkata: Sesuaikan sholatmu dengan keadaan orang yang terlemah di antara mereka, dan jadilah penyantun bagi seluruh kaum Mukmin.

Sumber Utama : Nahjul Balaghah, Syarif Ar-Radhiy
Sumber Rujukan : Mutiara Nahjul Balaghah, Mizan

Friday, October 15, 2004

Etika Pemerintahan (12) (Kaum Fakir-Miskin dan Kaum Lemah)

Surat Imam Ali Kepada Malik Asytar An-Nakha'iy Ketika Mengangkatnya Sebagai Wali Mesir dan Sekitarnya

Ingatlah Allah dan ingatlah Allah selalu dalam perlakuanmu terhadap rakyatmu yang berada di tingkat terbawah. Terutama mereka yang lemah tak berdaya, kaum fakir-miskin dan mereka yang dipaksa oleh kebutuhan, orang-orang sengsara dan penderita cacat. Termasuk dalam kelompok ini, mereka yang meminta-minta dan yang selalu mengharapkan pemberian.

Ingatlah Allah dan ingatlah selalu orang-orang seperti itu yang dititipkan-Nya kepadamu! Berilah mereka bagian dari Bayt Al-Maal serta bagian dari rampasan perang dan hasil tanah di seluruh penjuru negeri. Semua mereka, yang dekat maupun yang jauh, telah ditetapkan untuknya bagiannya dan diperhatikan kepentingannya.

Jangan sekali-kali kau disibukkan oleh kemewahan sehingga melalaikan mereka. Dan jangan beranggapan bahwa kau tidak akan dituntut akibat melalaikan yang remeh semata-mata disebabkan kau telah menyempurnakan pelbagai urusan yang besar lagi penting. Curahkanlah perhatianmu kepada mereka dan jangan sekali-kali kaupalingkan wajahmu dari mereka. Telitilah juga hal-ihwal orang-orang yang tidak dapat mencapaimu disebabkan kehinaan mereka di mata orang banyak. Tugaskanlah beberapa orang kepercayaanmu – yang bersahaja dan tawadhu, - untuk meneliti keadaan orang-orang itu. Kemudian penuhilah kewajibanmu terhadap mereka sehingga kau dapat mempertanggung jawabkannya kelak, pada saat perjumpaanmu dengan Allah SWT. Mereka itu adalah bagian dari rakyatmuyang paling mendambakan kesadaranmu untuk kaupenuhi haknya lebih dari yang lain.

Betapapun juga, bebaskanlah dirimu dari tuntutan Allah dengan memberikan kepada setiap orang haknya yang ditetapkan Allah baginya.

Perhatikan baik-naik semua anak yatim dan orang lanjut usia, serta orang-orang lemah yang tak berdaya sementara hatinya tak mengizinkannya untuk mengemis meminta-minta. Tugas seperti ini adalah sesuatu yang berat bagi para penguasa, namun kebenaran memang berat semuanya. Meskipun Allah akan meringankannya juga bagi mereka untuk mencari keuntungan di Hari Akhir lalu merka menyabarkan diri mereka sendiri, dan yakin akan kebenaran janji Allah bagi mereka.

Sempatkanlah dirimu untuk menerima kehadiran orang-orang yang memerlukan bantuan keadilan darimu. Duduklah bersama mereka dalam suatu majelis yang terbuka, agar di sana kau bertawadhu' merendahkan hati bagi Dia yang menciptamu. Dalam pertemuan seperti itu, seyogyanya kausingkirkan tentaramu, pembantu-pembantumu dan pengawal-pengawalmu, agar mereka yang ingin menyampaikan keluhannya kepadamu dapat melakukannya dengan tenang tanpa rasa takut dan cemas. Beberapa kali aku telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Tidak akan tersucikan suatu umat selama si lemah tidak dapat menuntut dan memperoleh kembali haknya dari si kuat tanpa rasa takut dan cemas.

Bersabarlah dalam menghadapi orang-orang yang lemah akalnya atau berat bicaranya. Singkirkanlah orang-orang buruk laku dan angkuh, niscaya Allah akan menebarkan rahmat-Nya dan mewajibkan pahala-Nya bagimu.

Bila kau memberi, berilah dengan penuh kerelaan! Bila kau menolak, tolaklah dengan halus sambil mengajukan alasan penolakanmu!

Sumber Utama : Nahjul Balaghah, Syarif Ar-Radhiy
Sumber Rujukan : Mutiara Nahjul Balaghah, Mizan

Etika Pemerintahan (11) (Perlakuan terhadap Para Pedagang dan Tukang)

Surat Imam Ali Kepada Malik Asytar An-Nakha'iy Ketika Mengangkatnya Sebagai Wali Mesir dan Sekitarnya

Perhatikan dan perlakukan dengan baik para pedagang dan ahli pertukangan. Yaitu mereka yang berusaha di tempatnya atau yang berpindah-pindah dengan hartanya, ataupun yang berpenghasilan dengan tenaganya. Dengan merekalah tersedia bahan-bahan kebutuhan rakyat dan barang-barang keperluan sehari-hari. Dan merekalah yang menghadirkannya dari tempat-tempat jauh dan pusat-pusatnya di darat, di laut, di kota dan di pegunungan, yang kebanyakan rakyat tidak dapat mencapainya ataupun tidak berani pergi ke sana.

Bersikap ramahlah kepada mereka sebab mereka – pada umumnya – adalah orang-orang yang suka damai, yang tidak usah kaucemaskan timbulnya pembangkangan mereka dan tidak perlu kaukhawatirkan datangnya bencana dari mereka. Telitilah urusan-urusan mereka, yang berada dekat denganmu ataupun yang jauh, di seluruh penjuru negeri.

Namun ketahuilah juga, bahwa ada pula di antara mereka yang berperilaku buruk, amat serakah, gemar menimbun kebutuhan orang banyak dan memaksakan harga-harga semau hatinya. Itulah pintu mudarat bagi rakyat kecil dan cacat bagi penguasa negeri. Maka laranglah penimbunan barang sebagaimana Rasulullah saw. juga telah melarangnya.

Jagalah agar jual-beli berlangsung dengan mudah untuk semua yang bersangkutan. Dengan timbangan-timbangan yang jujur dan harga-harga yang tidak merugikan si penjual ataupun si pembeli. Dan barang siapa melakukan penimbunan juga, setelah kau sampaikan laranganmu, jerakanlah ia dengan hukuman sepatutnya, tetapi jangan melewati batas.

Sumber Utama : Nahjul Balaghah, Syarif Ar-Radhiy
Sumber Rujukan : Mutiara Nahjul Balaghah, Mizan


 
Listed on Blogwise Site Meter